Assalamu'alaikum...Wr...Wb ...
¤¤¤NIAT¤¤¤Assalamu'alaikum...Wr...Wb ...
¤¤¤NIAT¤¤¤
Niat bukanlah ucapan atau lafadz dengan lisan,seperti umpamanya "nawaitu" (aku berniat),tapi adalah dorongan hati dan motivasi yang berjalan melalui jalan 'futuh' (pembuka) dari Allah.
Terkadang ia mudah dihadirkan dalam hati namun pada waktu-waktu yang lain sulit.
Orang yang hatinya tunduk pada nilai-nilai luhur agama,akan mudah menghadirkan niat dalam berbagai amal kebajikan,karena hatinya telah condong kepada pokok asal kebajikan tsb.
Dan niat itu pun akan tercermin pula dalam amal-amal lain yang kecil dan rinci.
Adapun orang yang kalbunya condong kepada dunia dan dikalahkan olehnya,tidaklah mudah baginya menghadirkan keikhlasan hati dalam melaksanahkan tugas dan kewajiban-kewajibannya.
Dalam sebuah hadits dari 'Umar bin Khaththab ra,dari Rasulullah saw,dikatakan:
"Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat,dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan.Maka barangsiapa yang niat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena perempuan yang ingin di nikahinya,maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya."
Diriwayatkan dari Imam Syafi'i ra,bahwa beliau mengatakan:
"Hadits ini mencakup sepertiga ilmu."
(Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung niatnya) artinya,bahwa kemaslahatan dan baiknya amal yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah saw adalah tergantung kepada baiknya (ikhlasnya) niat,yakni seperti seperti hadits berikut yang artinya:
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada akhirnya".
(dan bahwa bagi seseorang itu adalah apa yang ia niatkan) maksudnya,bahwa pahala si pelaku suatu amal adalah sesuai dengan niatnya.
"Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya,berarti ia hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia,ia akan mendapatkannya,dan barangsiapa yang hijrahnya kepada perempuan,maka ia akan mengawininya.
Maksudnya,setelah menetapkan kaidah yang yang pertama,beliau menyebutkan satu misal mengenai amal-amal yang bentuknya nampak sama,namun hasilnya berbeda,rusak atau utuh.
Tetapi,niat yang lurus (ikhlas),tidak akan menggeser atau mengubah perbuatan maksiat.oleh karena itu tidaklah patut bagi seorang dungu menafsirkan ucapan Rasul yang bersifat umum itu dengan penafsiran bahwa perbuatan maksiat bisa berubah menjadi perbuatan taat atau suatu kebaikan dengan sebab niat yang baik.Ini pemahaman yang salah.
Karena kata-kata:"Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung niatnya",hanya mencakup dua dari tiga bentuk amal,yaitu:amal saleh dan amal yang mubah yang bukan maksiat.Sedangkan amal maksiat tidak tercakup.
Amal saleh dapat berubah menjadi amal maksiat dengan sebab niatnya.Amal yang mubah juga bisa berganti menjadi maksiat atau amal saleh sesuai dengan niatnya.
Tetapi amal maksiat (jenis ketiga) tidak bisa berubah menjadi amal saleh dengan sebab niatnya.Dan kehadiran niat di dalam perbuatan maksiat jika di gabungkan dengan ketakaburan dan kelalaian,maka akan dilipatgandakan dosa dan hukumannya.
Sedang amal ketaatan (amal saleh) itu berpautan erat dengan niat dalam asalnya dan juga dalam pelipatgandaan balasannya.
Semoga bermanfaat bagi kita semua...
Dan semoga kita segalanya niatkan karena Allah dan Rasul-Nya.....
Semoga kita semua selalu dalam naungan-Nya,
Amiiien...YRA,,
¤¤¤NIAT¤¤¤Assalamu'alaikum...Wr...Wb
¤¤¤NIAT¤¤¤
Niat bukanlah ucapan atau lafadz dengan lisan,seperti umpamanya "nawaitu" (aku berniat),tapi adalah dorongan hati dan motivasi yang berjalan melalui jalan 'futuh' (pembuka) dari Allah.
Terkadang ia mudah dihadirkan dalam hati namun pada waktu-waktu yang lain sulit.
Orang yang hatinya tunduk pada nilai-nilai luhur agama,akan mudah menghadirkan niat dalam berbagai amal kebajikan,karena hatinya telah condong kepada pokok asal kebajikan tsb.
Dan niat itu pun akan tercermin pula dalam amal-amal lain yang kecil dan rinci.
Adapun orang yang kalbunya condong kepada dunia dan dikalahkan olehnya,tidaklah mudah baginya menghadirkan keikhlasan hati dalam melaksanahkan tugas dan kewajiban-kewajibannya.
Dalam sebuah hadits dari 'Umar bin Khaththab ra,dari Rasulullah saw,dikatakan:
"Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat,dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan.Maka barangsiapa yang niat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau karena perempuan yang ingin di nikahinya,maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya."
Diriwayatkan dari Imam Syafi'i ra,bahwa beliau mengatakan:
"Hadits ini mencakup sepertiga ilmu."
(Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung niatnya) artinya,bahwa kemaslahatan dan baiknya amal yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah saw adalah tergantung kepada baiknya (ikhlasnya) niat,yakni seperti seperti hadits berikut yang artinya:
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada akhirnya".
(dan bahwa bagi seseorang itu adalah apa yang ia niatkan) maksudnya,bahwa pahala si pelaku suatu amal adalah sesuai dengan niatnya.
"Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya,berarti ia hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia,ia akan mendapatkannya,dan barangsiapa yang hijrahnya kepada perempuan,maka ia akan mengawininya.
Maksudnya,setelah menetapkan kaidah yang yang pertama,beliau menyebutkan satu misal mengenai amal-amal yang bentuknya nampak sama,namun hasilnya berbeda,rusak atau utuh.
Tetapi,niat yang lurus (ikhlas),tidak akan menggeser atau mengubah perbuatan maksiat.oleh karena itu tidaklah patut bagi seorang dungu menafsirkan ucapan Rasul yang bersifat umum itu dengan penafsiran bahwa perbuatan maksiat bisa berubah menjadi perbuatan taat atau suatu kebaikan dengan sebab niat yang baik.Ini pemahaman yang salah.
Karena kata-kata:"Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung niatnya",hanya mencakup dua dari tiga bentuk amal,yaitu:amal saleh dan amal yang mubah yang bukan maksiat.Sedangkan amal maksiat tidak tercakup.
Amal saleh dapat berubah menjadi amal maksiat dengan sebab niatnya.Amal yang mubah juga bisa berganti menjadi maksiat atau amal saleh sesuai dengan niatnya.
Tetapi amal maksiat (jenis ketiga) tidak bisa berubah menjadi amal saleh dengan sebab niatnya.Dan kehadiran niat di dalam perbuatan maksiat jika di gabungkan dengan ketakaburan dan kelalaian,maka akan dilipatgandakan dosa dan hukumannya.
Sedang amal ketaatan (amal saleh) itu berpautan erat dengan niat dalam asalnya dan juga dalam pelipatgandaan balasannya.
Semoga bermanfaat bagi kita semua...
Dan semoga kita segalanya niatkan karena Allah dan Rasul-Nya.....
Semoga kita semua selalu dalam naungan-Nya,
Amiiien...YRA,,



Tidak ada komentar:
Posting Komentar