Bila Salam Di ganti Dengan Kata “ass, mikum, ekom, askum “
Bismillah, Alhamdulillah,, wassholatu wassalamu ala rosulillah,,
muhammadibni abdillah,, wa ala aliihi wa ashabihi wamaw walah,, Amma Ba’dah..
Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai suatu hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam (begitu juga sholawat) dengan disingkat.
Padahal telah diketahui bahwa dalam kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan dan pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti dan makna dari sebuah kata dan kalimat, bila kata atau kalimat tersebut di ucapkan.
Lalu, bagaimana jika salam (begitu juga shalawat) disingkat dalam penulisannya?
Apakah akan merubah arti dan makna kalimat tersebut?
Ø Adab Menulis Salam
Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka dan perlindungan dari segala bentuk aib dan kekurangan. SALAAM juga mengandung arti aman dari segala kejahatan dan terlindung dari peperangan.
Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam dan menyebarluaskannya
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya :
“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan,maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)
Yang dimaksud dengan penghormatan pada ayat diatas adalah ucapan salam, yaitu:
1. Assalaamu ‘alaykum
2. Atau assalaamu ‘alaykum warahmatullaah
3. Atau assalamu ‘alaykum warahmatullaah wabarakaatuh
Dalam ayat diatas juga terdapat perintah untuk membalas salam dengan yang lebih baik atau serupa dengan itu. Misalkan ada yang memberi salam dengan ucapan assalaamu ‘alaykum maka balaslah dengan yang serupa, yaitu wa’alaykumussalaam. Atau yang lebih baik dari itu, yaitu, wa’alaykumussalaam warahmatullaah, dan seterusnya.
Dari ayat yang mulia di atas dapat diketahui bahwa hukum menjawab atau membalas salam dengan lafadz yang serupa atau sama dengan apa yang diucapkan adalah fardhu atau wajib. Sedangkan membalas salam dengan lafadz yang lebih baik dari itu hukumnya adalah sunah. Dan berdosalah orang yang tidak menjawab atau membalas salam dengan lafadz yang serupa atau yang lebih baik dari itu. Karena dengan sendirinya dia telah menyalahi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan untuk membalas salam orang yang memberi salam kepada kita
Dari penjelasan di atas, lafadz “aslkm , mikum, ekom, askum” bahkan “ass” dan singkatan yang sejenisnya BUKAN termasuk dalam kategori SALAM. Walaupun dapat di pahami oleh orang yang membacanya, namun merubah NILAI dan MAKNA yang terkandung di dalam Salam itu sendiri.
sehingga menjawabnya pun tidak terbilang WAJIB. Dan bagaimana lafadz-lafadz tersebut dapat disebut salam, sementara dalam lafadz tersebut tidak mengandung MAKNA SALAM yaitu PENGHORMATAN dan DO'A BAGI PENERIMA SALAM do’a. Bahkan lafadz “ass”, dalam perbendaharaan kosa kata asing memiliki pengertian yang tidak sepantasnya, bahkan mengandung unsur penghinaan. Dan ironisnya banyak dikalangan kaum muslimin dikalangan kita yang kurang memperhatikan hal tersebut dan justru lebih menyukai kata "ass" daripada "assalamu 'alaikum" (wal ‘iyyadzubillah).
Beberapa alasan orang MELEGALKAN menulis "salam" dengan kata "ass" , di antaranya:
1) Menyingkat dan mempercepat waktu (kesuwen , jawa red)
2) Aah….boleh aja… menulis kata "ass" itu sih tergantung niatnya
JAWABAN :
1) ketahuilah sebagian para ahli hikmah mengatakan “العجلة من الشيطان” artinya : tergesa gesa itu berasal dari syetan laknatullah alaeh , begitulah trik syetan yang ingin menjerumuskan seorang muslim ke dalam kesesatan, yang salah satunya dia menggoda seseorang supaya mempercepat (tidak khusyuk) ibadahnya , misalnya saja ingin cepat sholatnya , baca qur’anya, dzikirnya DLL .
maka kata “ass, mikum, ekom atau askum” DLL mungkin juga sebagian kecil godaan syetan terhadap kaum muslim agar mempercepat ibadahnya dan enggan menyempurnakan ibadahnya dengan berbagai alasan, (wal iyyadzu billah) padahal salam dalam islam itu sendiri memiliki makna yang sangat besar baik tekstual maupun kontekstuanya bahkan merupakan do’a kita kepada saudara kita
2) Alasan ini sungguh tidak berdasar bahkan bisa dikatakan “salah penempatan kaidah” karena salah satu niat adalah bersamaan dengan perbuatan, kita buat contoh misalkan, orang yang mencuri tapi dia berniat “mengambil haknya”, orang mabuk berniat mensyukuri nikmat Alloh Azza Wajalla oleh sebab itu niat harus sinkron (cocok) dengan perbuatan . amal buruk namun perbuatanya jelek oleh sebab itu kaidah Ushul “al umuru bimaqosidiha” ( tiap amal tergantung niat ), atau hadist Baginda shallahu alaihi wasallam tidak bisa diterapkan dalam masalah ini. (wallahu a’lam)
Saran dan kritik atas tulisan di atas sangat saya harapkan terutama bagi para ustadz , para alim ulama , khususnya kepada Ustadz Dawam mu’allim yang telah saya tag ke dalam tulisan saya yang masih amburadul ini.
Wa ma taufiqi illa billahil aliyyil adzim, ‘alaihi tawakkaltu wa ilahi uniib…
Maroji'
1. Al-Qur’an Digital.
2. Al-Masaail Jilid 7, karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah.
3. Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin (Terjemah) Jilid 3 dan 4 cetakan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
4. Qowaidul Fiqhiyyah (id) karya Drs Bisri


Arti askum itu apa?
BalasHapusarti mikum itu apa?
arti ass itu apa?
buat blog koq isinya cuma ngoceh doank, jelasin donk arti katanya..!!