SABAR DALAM PENANTIAN (bagian.1)
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Penantian adalah suatu ujian
Tetapkanlah ku selalu dalam harapan
Karena keimanan tak hanya diucapkan
Adalah ketabahan menghadapi cobaan
[Nasyid : Dans-Penantian]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Aktivitas hari ini rasanya membuat ku terasa letih. Hari Sabtu memang berbeda dari hari biasanya. Sepulang kerja aku harus memberi privat disebuah bimbingan belajar yang letaknya lumayan jauh dari tempat kerja ku. Selasai memberikan privat aku juga masih harus mengajar adik-adik TPA dimasjid kampung ku. Alhamdulillah Allah masih memberi ku kekuatan untuk menjalani semua rutinitas yang memang harus aku lakukan untuk mencukupi kebutuhan ku dan setidaknya sedikit bisa membantu keluarga ku dan biaya sekolah adik ku.
Diatas singgasana cahaya mentari kian memudar, senjapun kian merona. Ah… ternyata sudah hampir maghrib. Selesai shalat maghrib aku langsung menuju kamar. Ingin sesekali merebahkan tubuh ini melepas segala lelah.
Sejenak ku pandang cermin dikamar ku. Ada sosok wajah yang hadir dalam kaca itu. Ku cermati perlahan-lahan wajah itu. Ku coba elus-elus sosok bayangan yang hadir dalam kaca itu.
“Itukah wajah ku yang sudah nampak layu?”
Ku alihkan pandangan ku kesebuah foto disebelah cermin dinding. Yah, foto ku sepuluh tahun silam bersama teman-teman sekolah diRohis. Tiba-tiba aku terbawa dalam lamunan, mengingat masa-masa sepuluh tahun yang lalu. Saat aku rasakan indahnya kebersamaan dan kekeluargaan bersama teman-teman seperjuangan. Saat itu kami baru semangat-semangatnya belajar ilmu agama. Bagaimana berjilbab yang sesungguhnya, bagaimana harus bergaul dengan lawan jenis dan terlebih bagaimana agar aku bisa menjadi sosok akhwat sejati. Begitu indahnya saat-saat itu, saat tertawa, saat berduka, itulah bagian dari lika-liku perjuangan yang harus aku jalani. Tiga tahun kami bersama menikmati masa-masa mencari jati diri.
Lulus sekolah aku dan teman-teman berpisah karena amanah kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang melanjutkan kuliah, ada yang kerja keLuar Negeri, ada juga yang mencari kerja dikota ternama. Dan aku saat itu memutuskan untuk membantu ibu berdagang dipasar sambil mencari pekerjaan. Alhamdulillah selang enam bulan aku sudah mendapatkan pekerjaan yang tak jauh dari tempat tinggal ku. Meski kami jauh, aku akan selalu mengingat teman-teman ku, karena mereka sudah ku anggap keluarga ku sendiri. Aku juga masih teringat lima tahun yang lalu, teman-teman ku banyak yang sudah menyempurnakan separoh diennya. Begitu bahagianya hati ku kala menerima undangan pernikahan mereka. Hanya aku yang kala itu mungkin belum memikirkan pernikahan, karena aku ingin bekerja untuk membantu biaya sekolah adik ku. Saat ditinggal ayah, ibulah yang menggantikan nahkoda dikeluarga ini.
“Rin… rin…”
Suara ibu tiba-tiba menggugah lamunanku.
“Kenapa kamu pandangi foto itu terus, kangen ya dengan teman-teman lamamu?” tanya ibu yang suaranya terlihat letih karena habis pulang dari pasar.
“Nggak kenapa-napa kok bu…” jawabku sambil gugup.
“Rin… orang-orang kampung sudah banyak menanyakan, kenapa Rin kok belum menikah? Padahal usia Rin juga sudah tua? Teman-teman Rin yang ada difoto itu juga sudah pada nikah semua kan?” kata ibu sambil berlalu dari ku.
Aku hanya diam saja sambil ku elus-elus foto didepan ku, dan tak terasa butiran-butiran kristal keluar dari mata ku. Ingin ku mengadu kehadirat-Nya,
“Ya Allah kenapakah Engkau juga belum mempertemukan ku dengan pendamping hidup ku?”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Sabarkanlah ku menanti pasangan hati
Tulus kan ku sambut sepenuh jiwa ini
Di dalam asa diri menjemput berkah-Mu
Tibalah izin-Mu atas harapan ini
[Nasyid: Dans-Penantian]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Malam ini selasai isya’ suasana terasa sangat hening. Ingin rasanya sesekali mengajak adik untuk jalan-jalan keluar rumah menikmati suasana malam minggu. Ku pandangi sekeliling, banyak orang-orang yang juga memanfaatkan malam akhir pekannya bersama keluarga dengan naik mobil, ada juga yang naik motor bersama pasangannya. Ku nikmati suasana malam itu bersama adik ku pergi kepasar malam, dengan naik sepeda mini peninggalan Ayah. Ada banyak jenis mainan, mulai dari kereta mini, pesawat putar, dan berbagai macam jenis makanan juga ada.
“Mbak, aku mau naik kereta mini boleh kan?”
“Boleh. Yuk kita ke pembelian karcis”
Ku penuhi keinginan adik ku, meski kini uang ku sudah menipis. Dani adalah adik ku satu-satunya yang kadang selalu menghibur ku dikala aku dalam kesedihan. Seharusnya aku yang menghiburnya. Karena diusianya yang masih belia nan imut-imut, ia sudah ditinggal ayah pergi untuk selama-lamanya, disaat ia seharusnya membutuhkan sentuhan dan kasih sayang seorang Ayah.
Aku Cuma duduk saja sambil menunggu Dani selesai naik mainan kereta mini. Ku coba-coba mengamati apa yang ada dipasar minggu.
“Hmm… Bau nasi goreng yang sedap”
Sejenak ku alihkan pandangan ku kesebuah warung nasi goreng. Ingin ku merasakannya, tapi apa boleh buat, uang ku sudah menipis. Tiba-tiba aku termenung melihat pasangan muda makan dengan saling menyuapi. Makan sepiring untuk berdua, sungguh menyenangkan. Aku membayangkan, andai itu aku dan pendamping hidup ku, alangkah indahnya. Tak terasa perlahan air mata ini menitik-nitik hingga menetes dijilbab ku. Sesekali ku hembuskan nafas untuk menahan air mata ini.
“Mbak… Mbak nangis ya…”
“Eh… Nggak… nggak napa-napa. Sudah selasai ya”
Dengan agak gugup aku menjawab sapaan adik ku, untuk mengela atas air mata yang tiba-tiba keluar.
“Dik, kita pulang yuk… sudah malam nanti ibu malah marah lagi”
Sampai dirumah aku langsung kekamar. Tak taunya, pandangan diwarung nasi goreng tadi masih terangan-angan dibenak ku.
Jam didinding menunjukkan pukul 00.30, sementara aku belum juga bisa tidur. Perkataan ibu sore tadi membuat ku resah dan gelisah. Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa berikhtiar kehadirat-Nya dan bersabar atas cobaan ini. Biarkan semua orang mengatakan aku sebagai perawan tua, asal aku bisa menjaga kehormatan ku ini. Malam ini aku ingin bermunajat kepada-Nya. Memohon ketenangan hati, agar segala harapan ku selama ini cepat terpenuhi. Dalam do’a ku mohon kepada-Nya :
Rabbi teguhkanlah ku dipenantian ku ini
Berikanlah cahaya terang-Mu selalu
Rabbi do’a dan upaya hamba-Mu ini
Hanyalah bersandar semata kepada-Mu
[Senandung : Dans-Penantian]
Lika-liku kehidupan seiring dengan rentangnya waktu ku telusuri dengan pasti tiada henti. Walau aral rintang kan menghadang, mengekang, menembus sepi. Kan kusandarkan amal dan pintaku kehadirat Ilahi Rabbi yang mengukir elok nan indah masa depanku. Rabbi…. kuatkanlah ku dalam menghadapi penantian ini. Ijinkan aku tuk selalu mencintai-Mu, walau apa yang selama ini yang ku harapkan belum jua kutemui. Tapi, bisa mencintai-Mu adalah sebuah kebahagiaan bagiku tersendiri.
(Bersambung.....)
***
29 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar