SABAR DALAM PENANTIAN (bagian.2)
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
“Allahuakbar… Allaahuakbar…”
Suara adzan subuh memecahkan alam sunyi. Terdengar kokok ayam yang ikut menghiasi dini hari. Aku masih mengenakan mukenah, tersungkur tidur diatas sajadah yang menemani ku bermunajat, berdo’a disepertiga malam tadi. Segera ku beranjak dari kamar ingin membangunkan ibu dan adik untuk shalat subuh berjamaah dimasjid.
Subhanallah… ku lihat ibu masih duduk diatas sajadahnya, sementara adik ku masih tertidur diatas dipan yang terbuat dari anyaman bambu . Pelan-pelan ku sapa beliau.
“Bu… Ibu…”
Ternyata ibu juga tertidur diatas sajadahnya hingga tidak mendengar suara ku. Ku dekati beliau, tapi hati ini sepertinya tak kuasa membangunkan beliau. Ku pandangai mukenah ibu terlihat basah karena cucuran air mata yang beliau keluarkan. Aku masih teringat mukenah yang ibu kenakan adalah pemberian ayahanda saat kelahiran adik ku Dani 15 tahun yang lalu. Dan kini mukenah itu sudah terlihat lusuh, warnanya pun sudah berubah. Tapi ibu masih saja senang mengenakan mukenah itu untuk sholat. Meski ibu tidak bisa membaca Al Qur’an, tapi beliau adalah orang yang jarang meninggalkan shalat tahajud. Kadang beliau juga berkata kepada ku.
“Rin… tiap selesai sholat jangan lupa do’akan ayah mu, dan untuk keluarga. Semoga Allah selalu memberikan kebaikan untuk keluarga kita. Ibu juga akan selalu mendo’akan untuk anak-anak ibu, agar Rin cepat mendapatkan pendamping hidup”
Mungkin kini aku baru tahu, mukenah yang terlihat lusuh itu nampak basah karena cucuran air matanya mendo’akan ku dan untuk kebaikan keluarga.
“Pyarrrrrrrrrr…”
Tak sengaja tangan ku menyenggol gelas diatas meja, membuat ibu dan adik ku terbangun.
“Ada apa Rin…?”
“Engg… ini… bu… ee… nggak sengaja tadi tangan ku nyenggol gelas ibu”
Jawab ku sambil terbata-bata.
“Maaf ya bu…”
“Tidak apa-apa, tapi lain kali hati-hati?! Oh ya… sudah subuh belum?”
“Baru selesai adzan bu…”
“Kita kemasjid yuk. Dani sayang,… ayo ambil sarung dan pecinya”
Kata ibu sambil melipat sajadahnya.
Begitulah perangai ibu. Beliau orang yang sabar, yang dengan kesabarannya beliau bisa membesarkan dan merawat kami tanpa ayah.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Perjalanan hidup seorang ibu
Penuh derita susah nan payah
Bersabar menapaki takdir-Nya
Tulusnya hati cinta Ibunda
[Nasyid : Tazakka – Kasih Ibunda]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Usai shalat subuh, aku bantu ibu menyiapkan sayur-sayuran yang akan dijual kepasar. Meski hasil dagangan tak begitu besar, tapi Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Disudut lain nampaknya jalan juga sudah mulai ramai oleh orang-orang yang akan pergi kepasar. Pasar Bestari, sebuah pasar Tradisional yang lumayan terkenal didaerah Sidoarjo. Selain tempatnya tertata dengan rapi dan terjaga akan kebersihannya, pasar Bestari juga pasar terlengkap sehingga membuat pembeli mudah mendapatkan apa yang diinginkan.
“Rin… ibu berangkat kepasar dulu ya. Jangan lupa sebelum berangkat Dani suruh sarapan dulu”
“Iya bu…”
Perlahan, ibu beralalu dari bayangan ku, dengan sepeda tua dan “beronjong” yang penuh sayuran ibu kayuh kepasar. Diusianya yang lumayan tua, ibu masih rela melakukan rutinitas berdagang dipasar hanya untuk mencukupi kehidupan keluarga. Tapi mungkin inilah takdirnya sebagai kepala keluarga dan ibu rumah tangga.
Ungkapan “Kasih Ibu Sepanjang Masa” memang benar-benar hanya pantas diberikan kepada beliau. Cinta kasihnya yang beliau berikan kepada anak-anaknya tiada pernah habis meski kami selaku anak banyak mengecewakan dan belum bisa memberikan kebahagiaan buat beliau. Terbukti waktu ibu mengandung, dengan cintanya ibu menjaga kandungannya. Ketika usia kehamilan semakin membesar, beliau susah sekali untuk tidur. Dan ketika yang ada didalam kandungannya lahir, begitu bahagianya ia menanti saat-saat itu. Sungguh sapaan tangisan sang bayi membuat ibu menitik-nitik air mata kebahagiaan. Dalam kehangatan dekapannya membuat sang bayi merasa nyaman disisinya. Pantas saja ketika Rasulullah ditanya “Kepada siapakah yang lebih berhak aku berbakti?” beliau menyebut “Ibumu… Ibumu... Ibumu...” sampai tiga kali. Maka persaksikanlah ibu, surga ada dibawah telapak kakinya.
Setalah sarapan aku pun berangkat kerja. Beginilah nasib ku, salah seorang yang kerja disebuah Toko Pakaian, meski hari minggu tetap masuk. Tapi dihari minggu aku biasa pulang jam 12.00, setelah itu aku bisa jaga kios ibu dipasar Bestari. Sudah menjadi kebiasaan beberapa ibu-ibu muslimah yang punya kios dipasar Bestari, adalah pengajian rutin ibu-ibu dimasjid Al Huda Bestari ba’da sholat dhuhur tiap hari minggu.
Panas matahari terasa menyengat, merasuk keseluruh sendi-sendi. Ku kayuh sepeda mini peninggalan ayahanda menuju kios ibu dipasar Bestari.
Tiba jua dikios ibu. Kios ibu memang tidak seluas dengan kios-kios yang lain. Tapi meskipun demikian, kios inilah yang memberikan hasil penghidupan bagi keluarga kami.
“Assalamu’alaikum…”
Ku sapa ibu ku yang sedang melayani pembeli.
“Wa’alaikumussalam...”
Terlihat ibu dan para pembeli serentak membalas salam ku.
Ku salami ibu dan ku cium tangannya sebagai ungkapan bakti anak kepada ibunya.
“Ini anak ibu Mirah?”
Tanya salah satu pembeli kepada ibu ku.
“Iya benar. Ini anak ku yang pertama”
Jawab ibu ku sambil membungkus sayur yang mau dibeli.
“Ternyata ibu punya anak perawan ya, cantik lagi. Sudah nikah belum nak?”
“Hmmm… dia masih suka bekerja”
Sela ibu ku dengan senyumnya.
“Bagaimana kalau saya kenalkan dengan putra ku bu? Putra ku sekarang kerja sebagai manajer disalah satu perusahaan Garment lho”
Tiba-tiba ibu mengalihkan pandangannya kepada ku.
“Terima kasih bu atas tawarannya. Masalahnya Rin masih senang bantu-bantu ibunya dipasar. Mungkin anak bu Mirna bisa dikenalkan dulu dengan wanita yang sudah siap untuk menikah”
Dengan senyumannya yang mengembang, spontan ibu belum bisa menerima tawaran bu Mirna.
“Ya sudah bu, ga pa pa. Semoga anak ibu mendapatkan yang terbaik”
Sela bu Mirna dengan perlahan-lahan sambil meninggalkan kios ibu bersama para pembeli yang lain.
Hati ku semakin galau, seakan-akan ada kesempatan yang hilang begitu saja dari ku. Meski aku belum tau anak bu Mirna seperti apa, tapi setidaknya bisa dinilai dari bu Mirna yang begitu lembut dan santun. Beliau pun juga sudah mengenakan kerudung. Tapi kenapa ibu tidak menerima tawarannya?!
“Riin… Nanti ada yang mau ambil gula. Barangnya ibu taruh diatas meja, didalam plastik hitam. Namanya pak Salamun. Jumlah total uangnya Rp. 56.000”
“Ya bu…!!” jawab ku dengan ketus.
“Eeh… kamu kenapa Rin, kok jawabnya seperti itu??!!”
“Gak kenapa-napa kok bu...!?”
“Marah ya sama ibu? Buktinya kamu kelihatan cemberut?!”
Perlahan ibu mendekati ku, mengelus-elus pundak ku, kemudian mendekap ku, seakan aku merasakan kasih sayangnya, seperti air yang menyirami taman dihati.
Dengan lirih ku mencoba berkata kepadanya.
“Bu… kenapa ibu tidak menerima tawaran ibu Mirna? Ibu sendiri kan yang selalu berdo’a agar Rin bisa cepat menemukan pasangan hidup Rin…?”
“Rin…. Ibu tau kamu ingin sekali cepat menemukan pasangan hidup mu. Tapi Ibu juga ingin Rin mendapatkan yang terbaik”
Aku tak bisa berkomentar terhadap apa yang ibu katakan kepada ku. Selama ini Ibu sudah ku percaya sebagai wanita yang begitu baik. Barangkali ibu mengharapkan agar pendamping hidup ku nanti setidaknya orang yang bisa menjadi sosok menantu juga sebagai kepala keluarga menggantikan almarhum ayahanda. Toh aku juga belum tau anak bu Mirna seperti apa, meski dia seorang manajer disebuah perusahaan, barangkali akhlaknya tidak sesuai dengan yang ibu harapkan. Tapi itulah ibu… beliau jarang mengutarkan kejelekan orang lain. Setidaknya aku bangga bisa menjadi anaknya.
“Rin… ibu berangkat pengajian dulu ya. Sudah jam 12.45. Takutnya ibu telah pengajian. Jangan lupa pesan ibu tadi.”
Seketika bayangan ibu kian memudar dari pandangan ku.
Sungguh aku bersyukur diciptakan-Nya dari sosok wanita mulia. Meski kehidupan kami cukup sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membawa butir-butir cinta.
Udara yang panas seakan-akan membuat badan terasa “gerah”, dan seisi ruangan pun ikut menjadi saksi atas cuaca siang ini.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Hadirnya tanpa ku sadari
Menggamit kasih cinta bersemi
Hadir cinta insan pada ku ini
Anugerah kurniaan Ilahi
[Dehearty : Permata yang Dicari]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
“Assalamu’alaikum…”
Terdengar sapaan salam seorang laki-laki dari depan kios.
“Wa’alaikumussalam…”
Kemudian dia masuk kios berjalan mendekati ku. Mata kami saling memandang. Entah mengapa hati ini berdebar dan lidah ini sulit untuk berucap. Didepan ku ada seorang pemuda yang begitu tampan, dengan wajah agak bulat dan berjenggot tipis. Kacamata yang dikenakannya menambah kemanisan raut wajahnya yang putih. Sesekali hanya senyuman menipis yang ku berikan untuk sedikit mencairkan kekakuan. Diapun juga membalas senyuman untuk ku. Hatiku serasa semakin tenteram dan bahagia. Seakan aku menemukan sebuah harapan. Tapi kemudian dia memberanikan diri berkata kepada ku.
“Maaf saya putranya pak Salamun, disuruh Abah untuk mengambil gula yang sudah kami pesan”
“E… e… eh… ya… sudah kami siapkan”
Dengan gugup ku mencoba mencari gula yang sudah ibu siapkan tadi. Sesegera ku berikan gula itu kepadanya. Pandanga ku tak bisa menipu. Tapi ku berusahan menundukkan padangan untuk menjaga perasaan ku.
“Uangnya berapa mbak?”
Duuh… kenapa tiba-tiba aku jadi lupa pesan ibu. Berapa tadi uang yang harus dibayarnya. Sejenak, ku mengingat-ingatnya.
“Engg… ini… totalnya Rp. 86.000”
Sesegara dia mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya kepada ku. Kemudian dia mengucapkan terima kasih serta salam lalu dan berlalu meninggalkan kios.
Rabbi… ada apa dengan hati ini? Apakah ini namanya cinta? Baru pertama kali melihatnya ada getar jiwa yang begitu dalam. Kenapa tadi aku tidak menanyakan namanya?
“Ya Allah… jika dia benar untuk ku dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan milik ku damaikanlah hati ku dengan ketentuan-Mu”
“Assalamu’alaikum…”
Salam ibu memecahkan ketermenungan ku.
“Wa’alaikumussalam…”
Sudah jam 16.00, pantesan ibu sudah pulang. Rasanya hari ini begitu cepat beralalu.
“Gimana Rin… pesanan pak Salamun sudah diambil?”
“Alhamdulillah sudah bu, ini uangnya.”
Dengan raut wajah yang senang ku berikan uang tadi kepada ibu.
“Lho kok uangnya lebih? Pak Salamun nambah gulanya lagi ya?”
“Eemmm… tidak tu bu. Memang total sebenarnya berapa bu?”
Sela ku sambil membela diri.
“Tadi ibu kan sudah bilang sama Rin, kalau totalnya Rp. 56.000. Ini yang Rin berikan sama ibu ada Rp. 86.000”
“Astaghfirullaahal’adzim… maaf bu Rin lupa”
“Ya sudah besok biar ibu kembalikan sisanya kerumah Pak Salamun. Kan uang yang sisa bukan hak kita, dan haram bagi kita mengambil barang yang bukan hak kita”
“Ee… biar Rin saja bu besok yang ngantar sisanya kerumah Pak Salamun. Tapi rumah Pak Salamun mana ya bu?”
“Rumahnya dikampung Asri. Beliau ketua RW. 04. Kampungnya sebelah area pasar Bestari. Paling cuma setengah kilo dari sini”
Ku menawarkan diri kepada ibu mengantarkan kembalian uang kerumah Pak Salamun hanya ingin bisa bertemu dengan Pemuda yang sekarang bayangannya selalu hadir dalam pikiranku.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
(Bersambung.....)
**
29 Juni 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar