SABAR DALAM PENANTIAN (bagian.3)
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Untaian bintang berkedip benderang
Menghias angkasa yang gulita
Coba aruingi malam yang sunyi
Dalam dzikir ku hati ku pada-Nya
Ya Allah kini malam-Mu tlah singgah
Didalam hati hamba-Mu yang resah
[Muhasabah : Algina T]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Malam ini aku duduk didepan rumah. Memandangi langit yang nampak begitu cerah, bintang-bintang berkedip-kedip menambah indahnya malam yang gulita. Aku termenung, bayang-bayang ikhwan yang datang dikios ibu sore tadi masih saja memenuhi pikiran ku. Seakan-akan diri ini ingin sekali dialah yang akan menjadi pendamping hidup ku. Tapi apakah dia mau menerima ku, yang sebenarnya usia ku juga sudah lumayan tua, selain itu kehidupan ku juga cukup sederhana. Sementara dia kelihatannya masih begitu muda, anak tokoh masyarakat pula. Ah… jodoh kan tak memandang status maupun usia. Tapi, memang tak bisa ku pungkiri baru pertama kali aku melihatnya aku sudah jatuh hati.
Hati ku semakin resah dan gelisah. Menanti hari esok. Esok aku akan datang kerumahnya untuk mengembalikan sisa uang pembelian gula. Apa lebih baik aku akan mengungkapkan perasaan ku langsung kepadanya? Bukankah dulu juga pernah ada wanita yang datang kepada Rasulullah ingin mengutarakan perasaan hatinya kepada seorang laki-laki?!
“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ku untuk selalu dijalan-Mu”
“Rin…. Sudah malam, kok masih duduk-duduk didepan rumah?”
“Sebentar lagi bu…”
Panggilan ibu membuyarkan kegelisahan ku. Sesegara ku masuk kerumah. Ku dekati ibu yang masih sibuk memilah-milah sayuran yang tersisa. Ku ingin ceritakan kegelisahan ku ini kepada beliau. Ibulah yang selama ini dapat memberi ku solusi disetiap masalah yang ku hadapi. Perlahan ku dekati beliau sambil bantu memilah-milah sayuran.
“Bu… tadi sore putranya pak Salamun yang ambil pesanan gulanya. Tapi Rin nggak sempat tanya namanya siapa”
“Lha trus kenapa?” tanya ibu ku.
“Sekilas Rin lihat, dia orangnya baik kok bu. Orangnya tampan, putih, jenggotnya tipis, kata-katanya santun, kalem dan pakai pakaian muslim lagi bu”
“Hmm..hmm..hmm….” ibu ku tersenyum mendengar ucapan ku.
“Emang, baik buruknya orang bisa dinilai dari pakaiannya ya?!”
“Ibu baru tahu nih, Rin menawarkan diri ngantar sisa kembalian ingin bertemu dengan putranya pak Salamun kan?!” Canda ibu pada ku.
“Ya, tapi itu nggak pokok kok bu. Yang paling pokok kan mengembalikan uang yang bukan hak kita?! He..he..he...?” jawab ku sambil meledek ibu.
“Ibu sih nggak masalah, Rin mau mengembalikan uang atau ingin ketemu anaknya Pak Salamun. Yah… semoga saja kalau itu yang Rin harapkan jadi pendamping hidup, semoga itu yang terbaik buat Rin”
“Aamiin…” jawab ku.
“Kebetulan besok dirumah bu Warsi ada acara syukuran, ibu ikut bantu-bantu dulu disana, jadi pulangnya mungkin malam”
“Ya bu. Ya sudah bu, Rin mau tidur dulu, sudah malam”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Anginpun menari mencari arti
Adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu
Didalam sunyi ia selalu hadir
Didalam sendiri ia selalu menyindir
Kadang meronta bersama air mata
Seolah tak kuasa menahan duka
[Menunggu Disayup Rindu : Al Maidany]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Masih saja dihantui oleh bayang-bayang ikhwan itu. Hati ku semakin resah, bagaimana besok aku harus mengungkapkan perasaan ku padanya? Sepertinya kalau aku langsung mengungkapkan perasaan ku, itu namanya tidak sopan. Aku kan seorang akhwat, harus bisa jaga “image”.
Malam pun berlalu, dan pagi pun kembali menyapa. Selesai sarapan aku pun berangkat kerja sambil ngantar adik ku kesekolah. Tak lupa semua keperluan aku cek terlebih dahulu, termasuk uang kembalian buat pak Salamun. Ku kayuh sepeda mini tua peninggalan ayahanda bersama adik ku. Rasanya aku bahagia sekali hari ini. Sambil berjalan, Aku membayangkan,
“Bila saja aku diboncengkan ikhwan itu naik sepeda mini ini”
Duuh… alangkah indahnya, serasa dunia akan jadi milik kami berdua. Kini getar-getar cinta itu ternyata mulai memenuhi ruangan hati ku. Membuat aku tak konsentrasi kerja melayani para pembeli. Aku juga jadi sering melihat jam dinding di Toko ku. Seakan ku hitung detik demi detik yang telah terlewat.
Jam 16.00, saatnya aku diganti dengan teman-teman ku yang masuk sift kedua. Sesegara aku mengambil sepeda mini ku, ku kayuh sepada itu menuju rumah Pak Salamun. Bayang-bayang ikhwan itu masih saja mengusik dalam perjalanan ku.
Dalam kelelahan itu ku coba menanyakan kepada warga RW. 04 dimana rumah Pak Salamun. Ternyata rumahnya sudah pindah satu kilo dari rumah beliau tempati dulu. Dan akhirnya tiba juga aku disebuah rumah yang cukup mewah. Disamping rumah itu juga ada taman yang begitu indah. Hati ku semakin berdebar-debar saat aku mulai membunyikan bel yang ada didepan pintu. Tak lama kemudian keluar seorang bapak yang rambut dan jenggotnya sudah memutih dengan memakai kaos oblong dan sarung.
“Assalamu’alaikum…”
Ku ucapkan salam ku kepada beliau.
“Wa’alaikumsalam…”
Jawab beliau dengan nadanya yang begitu lirih.
“Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Salamun?”
“Benar”
“Saya Rina pak, putrinya bu Mirah yang punya kios dipasar Bestari. Boleh saya ketemu dengan putra Bapak yang kemarin ambil pesanan gulanya Bapak?”
“Ohh… ya silahkan masuk nak… silahkan masuk. Duduk dulu, bapak panggilkan Dzaki”
Entah mengapa keringat ku tiba-tiba keluar. Degup-degup jantung ku juga semakin kencang. Sesekali ku tarik nafas dalam-dalam, dan ku keluarkan perlahan-lahan untuk mengurangi ketegangan ku.
“Assalamu’alaikum…”
Tak lama kemudian dari depan ku hadir seorang ikhwan menyapa ku. Seorang ikhwan yang pernah singgah kekios ibu mengambil pesanan gula. Sesegera ku tersenyum menyambut salamnya.
“Wa’alaikumsalam…”
“Mbak yang jaga kiosnya bu Mirah ya?”
“Iya, … disamping jaga, saya juga putrinya bu Mirah?!”
Ternyata kata-kata itulah yang akhirnya membuka hati kami untuk saling bicara dan setidaknya aku juga bisa sedikit bercanda.
“Maaf mas Dzaki, kedatangan saya kesini untuk mengembalikan uang sisa pembelian gula. Kemarin uangnya kelebihan. Jadi hari ini saya disuruh ibu untuk mengembalikannya”
“Owh… jadi merepotkan. Kok mbak tau kalau nama saya Dzaki?”
“Hhmm…. Tadi bapak mas yang manggil dengan nama Dzaki. Kalau sama pelanggan atau pembeli kan kita juga harus bisa saling mengenalnya biar lebih enak melayaninya”
“Oh… Mbaknya bisa saja”
Tapi suasana kemudian jadi sedikit hening kembali, tanpa kata, tanpa suara. Hanya detak-detak jarum jam yang terdengar meski tidak begitu keras.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
“Yah… Ayah…”
Tiba-tiba dari balik ruangan ada anak kecil seusia 3 tahun berjalan-jalan cepat sambil memegang handphone menghampiri kami diruang tamu.
“Yah, ayah… ada telpon dari Ummi”
“Oh ya, mana sayang…”
“Maaf mbak saya tinggal nerima telpon dulu ya”
“Oh ya silahkan…”
Mendengar itu, bumi serasa menjadi gempar. Hati ku semakin menyelisik bersama dalam dekapan kehampaan, terdiam menerima sebuah realita. Kini harapan itu telah pudar. Harapan agar bisa memilikinya untuk menjadi pendamping hidup dan ayah dari anak-anak ku nanti. Meski hati ku tak mengizinkan, tapi inilah kenyataan yang harus aku terima. Ingin sekali ku membuang kenyataan ini bersama bulir-bulir permata. Biar air mata ini jatuh sebagai saksi atas rapuhnya harapan ku. Tapi sekuat mungkin ku tahan segala bulir-bulir permata itu agar tak luluh. Karena memang bukanlah dia yang salah. Tapi ini salah ku yang mudah berharap pada seseorang yang singgah dalam hati ku.
“Maaf mbak, kalau saya tinggal menerima telpon. Istri cuma kasih kabar kalau pulangnya agak telat karena ada acara pengajian”
“Oh… tidak apa-apa… hmmmm”
Ku paksakan diri ku untuk tersenyum meski terasa berat.
“Maaf, saya langsung pamit. Sudah sore, takut kemalaman”
“Oh ya silahkan. Terima kasih ya. Salam buat bu Mirah”
“Hmmm… Insya Allah”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Ku kayuh sepeda mini ku bersama genangan air mata yang memang tak bisa aku tahan. Langitpun mulai nampak gelap, seakan-akan ia menjadi tanda gelapnya hati ku saat ini.
Sampai dirumah aku langsung kekamar. Ingin ku teriak sekencang-kencangnya. Ingin ku mengadu kembali kehadirat-Nya.
Malam ini ku ingin mencoba mengapus segala gundah dan luka hati yang terjadi hari ini. Atas cinta yang tak mempertemukan ku dengannya dalam ikatan suci. Cinta yang mengajari ku untuk menerima apa yang telah terjadi.
“Rin…”
“Eh… ibu sudah pulang ya?”
“Gimana tadi uangnya sudah dikembalikan sama Pak Salamun. Ketemu dengan, siapa… Putranya pak Salamun yang tampan itu?”
“Hngg… sudah bu”
“Lho kok Rin nggak seneng?! Kan habis ketemu sama yang Rin idam-idamkan?! Kenapa mata Rin kelihatan bengap begitu?”
Ibu mendekati ku, kemudian duduk disamping ku dan mendekap ku. Dalam dekapannya aku benar-benar merasakan kehangatan kasih sayangnya.
“Kenapa Rin sedih lagi, ceritakan sama ibu”
“Mungkin dia belum jodoh Rin bu. Dia sudah punya istri dan anak”
Tanpa terasa bulir-bulir permata indah itu menetes lagi. Kini butiran itu menitik dalam dekapan ibu atas kedukaan yang ku hadapi.
“Sabar ya Rin… Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat Rin. Dia pasti akan datang disaat yang tepat”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti
Hadir tuk datang menjemput hati mu
Sabarlah menanti usahlah ragu
Kekasih kan datang sesuai dengan iman dihati
[Al Maidany]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Kata-kata ibu membuat aku merasa mempunyai harapan lagi. Memang aku harus bersabar atas apa yang terjadi. Aku juga harus yakin bahwa saat aku lahir Allah sudah menentukan
“Rizki, ajal dan jodohku”
Barangkali Allah masih merahasiakannya untuk menguji ku.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
(Bersambung.....)
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Untaian bintang berkedip benderang
Menghias angkasa yang gulita
Coba aruingi malam yang sunyi
Dalam dzikir ku hati ku pada-Nya
Ya Allah kini malam-Mu tlah singgah
Didalam hati hamba-Mu yang resah
[Muhasabah : Algina T]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Malam ini aku duduk didepan rumah. Memandangi langit yang nampak begitu cerah, bintang-bintang berkedip-kedip menambah indahnya malam yang gulita. Aku termenung, bayang-bayang ikhwan yang datang dikios ibu sore tadi masih saja memenuhi pikiran ku. Seakan-akan diri ini ingin sekali dialah yang akan menjadi pendamping hidup ku. Tapi apakah dia mau menerima ku, yang sebenarnya usia ku juga sudah lumayan tua, selain itu kehidupan ku juga cukup sederhana. Sementara dia kelihatannya masih begitu muda, anak tokoh masyarakat pula. Ah… jodoh kan tak memandang status maupun usia. Tapi, memang tak bisa ku pungkiri baru pertama kali aku melihatnya aku sudah jatuh hati.
Hati ku semakin resah dan gelisah. Menanti hari esok. Esok aku akan datang kerumahnya untuk mengembalikan sisa uang pembelian gula. Apa lebih baik aku akan mengungkapkan perasaan ku langsung kepadanya? Bukankah dulu juga pernah ada wanita yang datang kepada Rasulullah ingin mengutarakan perasaan hatinya kepada seorang laki-laki?!
“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ku untuk selalu dijalan-Mu”
“Rin…. Sudah malam, kok masih duduk-duduk didepan rumah?”
“Sebentar lagi bu…”
Panggilan ibu membuyarkan kegelisahan ku. Sesegara ku masuk kerumah. Ku dekati ibu yang masih sibuk memilah-milah sayuran yang tersisa. Ku ingin ceritakan kegelisahan ku ini kepada beliau. Ibulah yang selama ini dapat memberi ku solusi disetiap masalah yang ku hadapi. Perlahan ku dekati beliau sambil bantu memilah-milah sayuran.
“Bu… tadi sore putranya pak Salamun yang ambil pesanan gulanya. Tapi Rin nggak sempat tanya namanya siapa”
“Lha trus kenapa?” tanya ibu ku.
“Sekilas Rin lihat, dia orangnya baik kok bu. Orangnya tampan, putih, jenggotnya tipis, kata-katanya santun, kalem dan pakai pakaian muslim lagi bu”
“Hmm..hmm..hmm….” ibu ku tersenyum mendengar ucapan ku.
“Emang, baik buruknya orang bisa dinilai dari pakaiannya ya?!”
“Ibu baru tahu nih, Rin menawarkan diri ngantar sisa kembalian ingin bertemu dengan putranya pak Salamun kan?!” Canda ibu pada ku.
“Ya, tapi itu nggak pokok kok bu. Yang paling pokok kan mengembalikan uang yang bukan hak kita?! He..he..he...?” jawab ku sambil meledek ibu.
“Ibu sih nggak masalah, Rin mau mengembalikan uang atau ingin ketemu anaknya Pak Salamun. Yah… semoga saja kalau itu yang Rin harapkan jadi pendamping hidup, semoga itu yang terbaik buat Rin”
“Aamiin…” jawab ku.
“Kebetulan besok dirumah bu Warsi ada acara syukuran, ibu ikut bantu-bantu dulu disana, jadi pulangnya mungkin malam”
“Ya bu. Ya sudah bu, Rin mau tidur dulu, sudah malam”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Anginpun menari mencari arti
Adakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu
Didalam sunyi ia selalu hadir
Didalam sendiri ia selalu menyindir
Kadang meronta bersama air mata
Seolah tak kuasa menahan duka
[Menunggu Disayup Rindu : Al Maidany]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Masih saja dihantui oleh bayang-bayang ikhwan itu. Hati ku semakin resah, bagaimana besok aku harus mengungkapkan perasaan ku padanya? Sepertinya kalau aku langsung mengungkapkan perasaan ku, itu namanya tidak sopan. Aku kan seorang akhwat, harus bisa jaga “image”.
Malam pun berlalu, dan pagi pun kembali menyapa. Selesai sarapan aku pun berangkat kerja sambil ngantar adik ku kesekolah. Tak lupa semua keperluan aku cek terlebih dahulu, termasuk uang kembalian buat pak Salamun. Ku kayuh sepeda mini tua peninggalan ayahanda bersama adik ku. Rasanya aku bahagia sekali hari ini. Sambil berjalan, Aku membayangkan,
“Bila saja aku diboncengkan ikhwan itu naik sepeda mini ini”
Duuh… alangkah indahnya, serasa dunia akan jadi milik kami berdua. Kini getar-getar cinta itu ternyata mulai memenuhi ruangan hati ku. Membuat aku tak konsentrasi kerja melayani para pembeli. Aku juga jadi sering melihat jam dinding di Toko ku. Seakan ku hitung detik demi detik yang telah terlewat.
Jam 16.00, saatnya aku diganti dengan teman-teman ku yang masuk sift kedua. Sesegara aku mengambil sepeda mini ku, ku kayuh sepada itu menuju rumah Pak Salamun. Bayang-bayang ikhwan itu masih saja mengusik dalam perjalanan ku.
Dalam kelelahan itu ku coba menanyakan kepada warga RW. 04 dimana rumah Pak Salamun. Ternyata rumahnya sudah pindah satu kilo dari rumah beliau tempati dulu. Dan akhirnya tiba juga aku disebuah rumah yang cukup mewah. Disamping rumah itu juga ada taman yang begitu indah. Hati ku semakin berdebar-debar saat aku mulai membunyikan bel yang ada didepan pintu. Tak lama kemudian keluar seorang bapak yang rambut dan jenggotnya sudah memutih dengan memakai kaos oblong dan sarung.
“Assalamu’alaikum…”
Ku ucapkan salam ku kepada beliau.
“Wa’alaikumsalam…”
Jawab beliau dengan nadanya yang begitu lirih.
“Maaf, apa benar ini rumahnya Pak Salamun?”
“Benar”
“Saya Rina pak, putrinya bu Mirah yang punya kios dipasar Bestari. Boleh saya ketemu dengan putra Bapak yang kemarin ambil pesanan gulanya Bapak?”
“Ohh… ya silahkan masuk nak… silahkan masuk. Duduk dulu, bapak panggilkan Dzaki”
Entah mengapa keringat ku tiba-tiba keluar. Degup-degup jantung ku juga semakin kencang. Sesekali ku tarik nafas dalam-dalam, dan ku keluarkan perlahan-lahan untuk mengurangi ketegangan ku.
“Assalamu’alaikum…”
Tak lama kemudian dari depan ku hadir seorang ikhwan menyapa ku. Seorang ikhwan yang pernah singgah kekios ibu mengambil pesanan gula. Sesegera ku tersenyum menyambut salamnya.
“Wa’alaikumsalam…”
“Mbak yang jaga kiosnya bu Mirah ya?”
“Iya, … disamping jaga, saya juga putrinya bu Mirah?!”
Ternyata kata-kata itulah yang akhirnya membuka hati kami untuk saling bicara dan setidaknya aku juga bisa sedikit bercanda.
“Maaf mas Dzaki, kedatangan saya kesini untuk mengembalikan uang sisa pembelian gula. Kemarin uangnya kelebihan. Jadi hari ini saya disuruh ibu untuk mengembalikannya”
“Owh… jadi merepotkan. Kok mbak tau kalau nama saya Dzaki?”
“Hhmm…. Tadi bapak mas yang manggil dengan nama Dzaki. Kalau sama pelanggan atau pembeli kan kita juga harus bisa saling mengenalnya biar lebih enak melayaninya”
“Oh… Mbaknya bisa saja”
Tapi suasana kemudian jadi sedikit hening kembali, tanpa kata, tanpa suara. Hanya detak-detak jarum jam yang terdengar meski tidak begitu keras.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
“Yah… Ayah…”
Tiba-tiba dari balik ruangan ada anak kecil seusia 3 tahun berjalan-jalan cepat sambil memegang handphone menghampiri kami diruang tamu.
“Yah, ayah… ada telpon dari Ummi”
“Oh ya, mana sayang…”
“Maaf mbak saya tinggal nerima telpon dulu ya”
“Oh ya silahkan…”
Mendengar itu, bumi serasa menjadi gempar. Hati ku semakin menyelisik bersama dalam dekapan kehampaan, terdiam menerima sebuah realita. Kini harapan itu telah pudar. Harapan agar bisa memilikinya untuk menjadi pendamping hidup dan ayah dari anak-anak ku nanti. Meski hati ku tak mengizinkan, tapi inilah kenyataan yang harus aku terima. Ingin sekali ku membuang kenyataan ini bersama bulir-bulir permata. Biar air mata ini jatuh sebagai saksi atas rapuhnya harapan ku. Tapi sekuat mungkin ku tahan segala bulir-bulir permata itu agar tak luluh. Karena memang bukanlah dia yang salah. Tapi ini salah ku yang mudah berharap pada seseorang yang singgah dalam hati ku.
“Maaf mbak, kalau saya tinggal menerima telpon. Istri cuma kasih kabar kalau pulangnya agak telat karena ada acara pengajian”
“Oh… tidak apa-apa… hmmmm”
Ku paksakan diri ku untuk tersenyum meski terasa berat.
“Maaf, saya langsung pamit. Sudah sore, takut kemalaman”
“Oh ya silahkan. Terima kasih ya. Salam buat bu Mirah”
“Hmmm… Insya Allah”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Ku kayuh sepeda mini ku bersama genangan air mata yang memang tak bisa aku tahan. Langitpun mulai nampak gelap, seakan-akan ia menjadi tanda gelapnya hati ku saat ini.
Sampai dirumah aku langsung kekamar. Ingin ku teriak sekencang-kencangnya. Ingin ku mengadu kembali kehadirat-Nya.
Malam ini ku ingin mencoba mengapus segala gundah dan luka hati yang terjadi hari ini. Atas cinta yang tak mempertemukan ku dengannya dalam ikatan suci. Cinta yang mengajari ku untuk menerima apa yang telah terjadi.
“Rin…”
“Eh… ibu sudah pulang ya?”
“Gimana tadi uangnya sudah dikembalikan sama Pak Salamun. Ketemu dengan, siapa… Putranya pak Salamun yang tampan itu?”
“Hngg… sudah bu”
“Lho kok Rin nggak seneng?! Kan habis ketemu sama yang Rin idam-idamkan?! Kenapa mata Rin kelihatan bengap begitu?”
Ibu mendekati ku, kemudian duduk disamping ku dan mendekap ku. Dalam dekapannya aku benar-benar merasakan kehangatan kasih sayangnya.
“Kenapa Rin sedih lagi, ceritakan sama ibu”
“Mungkin dia belum jodoh Rin bu. Dia sudah punya istri dan anak”
Tanpa terasa bulir-bulir permata indah itu menetes lagi. Kini butiran itu menitik dalam dekapan ibu atas kedukaan yang ku hadapi.
“Sabar ya Rin… Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat Rin. Dia pasti akan datang disaat yang tepat”
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti
Hadir tuk datang menjemput hati mu
Sabarlah menanti usahlah ragu
Kekasih kan datang sesuai dengan iman dihati
[Al Maidany]
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
Kata-kata ibu membuat aku merasa mempunyai harapan lagi. Memang aku harus bersabar atas apa yang terjadi. Aku juga harus yakin bahwa saat aku lahir Allah sudah menentukan
“Rizki, ajal dan jodohku”
Barangkali Allah masih merahasiakannya untuk menguji ku.
.:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:. ♥ .:|:.
(Bersambung.....)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar